Zona Kalimantan, Palangka Raya – Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi fokus utama dalam pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kalimantan Tengah dan Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029, dengan keluarga sebagai fondasi utama peningkatan kualitas generasi menuju Indonesia Emas 2045.
Hal itu dikatakan Ketua TP PKK Provinsi Kalimantan Tengah Aisyah Thisia Agustiar Sabran saat membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting serta Penilaian Kinerja Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2026 di Aula Jayang Tingang Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, Rabu (29/4/2026).
“Pelaksanaan Rakorda ini sebagai momentum strategis untuk memperkuat sinergi dan komitmen bersama dalam mendukung program prioritas nasional, sekaligus mewujudkan visi Kalteng Berkah, Kalteng Maju menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Ia menekankan, tahun 2026 merupakan tahun kedua implementasi RPJMD dan Renstra 2025–2029 yang menempatkan SDM sebagai modal utama pembangunan.
“Dalam konteks ini, pembangunan keluarga menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kualitas generasi,” tambahnya.
Aisyah juga menyampaikan komitmen Kalimantan Tengah dalam percepatan penurunan stunting yang menunjukkan tren positif, dari 27,4 persen pada 2021 menjadi 22,1 persen pada 2024, dengan target 20,6 persen pada 2025 dan 18,80 persen pada 2026.
“Capaian ini patut disyukuri, namun perlu upaya yang lebih terarah, terintegrasi, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Menurutnya, stunting tidak hanya persoalan kesehatan, tetapi juga berkaitan erat dengan kualitas hidup, produktivitas, dan daya saing daerah, terutama dalam menghadapi bonus demografi dan tantangan penuaan penduduk.
Lebih lanjut, ia menjelaskan Program Bangga Kencana memiliki peran strategis dalam pembangunan keluarga sepanjang siklus kehidupan, dengan fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
“Berbagai program prioritas terus diperkuat, seperti Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), pemanfaatan platform digital, program pemberdayaan lansia (SIDAYA), serta Program Makan Bergizi Gratis bagi ibu hamil, menyusui, dan balita,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan program sangat ditentukan oleh sinergi lintas sektor, koordinasi yang efektif, serta kualitas pelaksanaan di daerah. Rakorda ini menjadi forum koordinasi sekaligus evaluasi berbasis data.
“Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dan memastikan setiap intervensi tepat sasaran dan berdampak nyata bagi masyarakat,” imbuhnya.
Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Linae Victoria Aden menyampaikan capaian prevalensi stunting Kalteng mengalami penurunan dari 23,5 persen pada 2023 menjadi 22,1 persen pada 2024.
“Penurunan ini patut disyukuri, namun dengan target 18,8 persen pada 2026, diperlukan upaya yang lebih optimal,” ungkapnya.
Selanjutnya, upaya percepatan penurunan stunting perlu didukung peningkatan kualitas data melalui monitoring dan evaluasi, pengukuran 31 indikator layanan, evaluasi realisasi anggaran, serta identifikasi kendala sebagai dasar perbaikan kebijakan. (Mar)

