Zona Kalimantan, Ketapang, Kalimantan Barat– Menjelang musim kemarau, berbagai upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus diperkuat di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Salah satunya melalui pemanfaatan sistem deteksi dini berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) yang membantu mengidentifikasi indikasi asap dan api sehingga respons di lapangan dapat dilakukan lebih cepat.
Ini digunakan oleh PT Agrolestari Mandiri, anak usaha Sinar Mas Agribusiness and Food, melalui pengoperasian kamera pemantau (CCTV) dengan AI yang mampu mendeteksi asap dan api hingga jarak 17 kilometer secara real time.
Sebagai bagian dari sistem pemantauan berlapis, teknologi ini melengkapi pemantauan hotspot berbasis satelit yang telah digunakan sebelumnya. Dengan kemampuan mendeteksi indikasi asap dan api secara real time, sistem AI membantu mempercepat proses identifikasi dan verifikasi potensi kebakaran sehingga respons di lapangan dapat dilakukan lebih cepat.
Pemanfaatan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya pencegahan karhutla yang lebih luas. Selain memperkuat sistem deteksi dini melalui kombinasi pemantauan berbasis AI dan satelit, perusahaan juga terus meningkatkan kesiapsiagaan melalui patroli rutin, pembinaan Masyarakat Siaga Api (MSA), serta penguatan personel dan sarana pemadaman.

Komitmen tersebut ditegaskan melalui Apel Siaga Pencegahan Karhutla yang diselenggarakan PT Agrolestari Mandiri di Ketapang, Kalimantan Barat. Kegiatan yang diikuti 250 peserta ini mempertemukan unsur pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, pemerintah desa, serta perwakilan perusahaan untuk memperkuat koordinasi menjelang musim kemarau.
Selain apel siaga, para pemangku kepentingan juga melakukan penandatanganan komitmen bersama pencegahan karhutla. Kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi Peraturan Daerah Kabupaten Ketapang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Tata Cara Pembukaan Lahan dengan Pembakaran Terkendali untuk Kearifan Lokal serta simulasi penanganan karhutla oleh Tim Kesiapsiagaan Tanggap Darurat (KTD) perusahaan.
Yunifar Purwantoro, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ketapang, menegaskan bahwa pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan semua pihak. Yunifar yang berperan sebagai inspektur apel siaga mengingatkan bahwa risiko kebakaran dapat terjadi di berbagai wilayah sehingga kolaborasi antarpihak sangat penting.
“Karhutla bukan hanya menjadi urusan pemerintah atau BPBD. Pencegahan membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi, hingga organisasi kemasyarakatan,” ujar Yunifar
Senada, Rudi Windra Darisman, Kepala Daerah Operasi (Daops) Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang, mengatakan bahwa sistem deteksi dini menjadi salah satu faktor penting dalam menekan risiko karhutla. Menurutnya, semakin cepat potensi kebakaran diketahui, semakin besar peluang mencegah api meluas.
“Langkah pencegahan yang paling efektif adalah memperkuat sistem peringatan dini dan deteksi dini, seperti monitoring hotspot secara berkala, patroli terpadu, serta pengecekan langsung di lapangan,” jelas Rudi.
Sabran, S.Pd., M.H., Camat Nanga Tayap, menilai keterlibatan masyarakat merupakan bagian penting dalam upaya pencegahan karhutla. Menurutnya, kegiatan pencegahan seperti apel siaga tidak hanya memperkuat kesiapsiagaan di lapangan, tetapi juga memberikan rasa aman bagi masyarakat karena menunjukkan komitmen berbagai pihak untuk bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran.
“Karhutla tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja. Ini adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat. Karena itu, kolaborasi dan komunikasi yang baik sangat penting agar potensi kebakaran dapat dideteksi lebih dini dan dicegah sebelum menjadi bencana yang lebih besar,” ujar Sabran.
Bonny Wijaya, CEO Perkebunan Sinar Mas (PSM) 7, menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi dapat membantu mempercepat deteksi risiko. Namun, penggunaan teknologi tersebut perlu dibarengi dengan kolaborasi dan kesadaran bersama.
“Menjaga lingkungan dari risiko kebakaran membutuhkan kerja sama banyak pihak. Karena itu, kami terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat, dan para pemangku kepentingan agar upaya pencegahan dapat berjalan dengan optimal,” ujar Bonny.
Di tengah tantangan musim kemarau yang kembali datang setiap tahun, pencegahan karhutla tidak lagi hanya mengandalkan respons ketika api muncul. Melalui kombinasi teknologi, kesiapsiagaan di lapangan, dan kerja sama dengan masyarakat, berbagai pihak berupaya memastikan potensi kebakaran dapat dikenali dan ditangani lebih dini.
[SELESAI]
Tentang Sinar Mas Agribusiness and Food
Sinar Mas Agribusiness and Food, yang beroperasi di bawah Golden Agri-Resources (GAR), merupakan salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit terkemuka dengan luas areal tanam di Indonesia lebih dari setengah juta hektar, termasuk kebun milik petani plasma, serta bermitra dengan lebih dari 800.000 petani swadaya. Sebagai bagian dari agribisnis global GAR dengan pendekatan seed-to-shelf, perusahaan ini mengelola operasi terpadu dalam produksi bahan pangan berbasis minyak nabati, serta terus bertumbuh dengan tujuan memberikan nilai jangka panjang melalui praktik produksi minyak kelapa sawit yang berkelanjutan.
Di Indonesia, kegiatan utama perusahaan meliputi budidaya dan pemanenan kelapa sawit, pengolahan tandan buah segar menjadi minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan inti sawit, serta penyulingan CPO menjadi produk bernilai tambah seperti minyak goreng, margarin, shortening, dan biodiesel yang dipasarkan ke berbagai negara. Perusahaan juga beroperasi di Tiongkok dan India dengan fasilitas pengolahan minyak nabati dan produk pangan. Pada 2025, perusahaan memproduksi sekitar 2,8 juta metrik ton produk berbasis kelapa sawit dengan lebih dari 30 merek konsumen.
Keberlanjutan merupakan hal penting bagi perusahaan. Sejalan dengan kebijakan Responsible Agri-Commodity Sourcing dan kerangka Collective for Impact dari GAR, perusahaan berkomitmen memastikan praktik yang bertanggung jawab, meningkatkan transparansi rantai pasok, serta memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. Saat ini, 99,5% rantai pasok kelapa sawit di Indonesia dapat ditelusuri hingga ke tingkat perkebunan, sementara komoditas non-kelapa sawit mencapai 100% hingga tingkat pabrik.
Perusahaan induknya, GAR didirikan pada tahun 1996 dan tercatat di Bursa Efek Singapura pada 1999, dengan kapitalisasi pasar sebesar US$2,8 miliar per 31 Desember 2025. Flambo International Limited merupakan pemegang saham terbesar dengan kepemilikan 50,56%. GAR memiliki beberapa anak perusahaan, termasuk PT SMART Tbk yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tahun 1992. Secara global, GAR beroperasi di 14 negara dan menjangkau lebih dari 110 pasar, didukung oleh kekuatan logistik dan perdagangan komoditas lainnya seperti gula, kedelai, bunga matahari, dan kelapa.

