Zona Kalimantan – Di Gunung Bakti, Subulussalam, Aceh, seorang perempuan membagi waktunya antara rumah, kebun, dan usaha keluarga yang bergerak dalam perdagangan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Selama bertahun-tahun, ia menjalani berbagai peran sekaligus – mengurus keluarga sambil merawat kebun.
Perjalanan ini tidak selalu mudah, namun dari keseharian itulah perlahan tumbuh rasa percaya diri dan ketangguhan. Seiring waktu, Risniati Tarigan menemukan kekuatannya sendiri sebagai seorang pedagang TBS, pemimpin kelompok, sekaligus perempuan yang berani melangkah di sektor yang masih didominasi oleh laki-laki.
Selama dua tahun terakhir, melalui CV Perangin-Angin Group (PAG), Risniati bekerja sama dengan dua pedagang lainnya dan juga dengan hampir 300 pekebun swadaya yang secara kolektif mengelola sekitar 680 hektare perkebunan kelapa sawit. Di masa lalu, banyak petani mengandalkan praktik yang diwariskan secara turun-temurun.
Pemupukan sering dilakukan tanpa takaran yang tepat, pelepah disusun tanpa tujuan yang jelas, dan tingkat kematangan buah sering kali ditentukan berdasarkan pengalaman semata, bukan panduan yang terstruktur.
Melalui interaksi sehari-harinya dengan para pekebun swadaya, Risniati mulai bertanya-tanya bagaimana praktik-praktik tersebut dapat diperbaiki. Ia melihat potensi peningkatan produktivitas dan kualitas hasil panen jika para petani dibekali pengetahuan yang lebih jelas serta pendekatan yang lebih terstruktur dalam mengelola kebun mereka.
Perjalanannya dalam memahami keberlanjutan bermula dari perannya sebagai pedagang yang mengumpulkan tandan buah segar (TBS) dari para petani swadaya di komunitasnya. Dari interaksi tersebut, Risniati melihat secara langsung berbagai tantangan yang dihadapi para petani dalam menjaga kualitas dan konsistensi hasil panen.
Ketika pertama kali mendengar tentang pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) dalam program Sawit Terampil, ia merasa tertarik dan ingin mengetahui lebih jauh. Setelah memahami adanya kesenjangan antara praktik pertanian yang selama ini dijalankan dengan standar praktik pertanian yang baik, ia mulai mengajak para petani yang memasok TBS kepadanya untuk ikut bergabung dalam program tersebut.
Seiring waktu, program tersebut juga membuka kesempatan bagi para peserta untuk memperoleh sertifikasi RSPO. Melihat potensi manfaat yang dapat diperoleh, Risniati, bersama dua pedagang lainnya serta ratusan pekebun swadaya memutuskan untuk mengambil kesempatan ini. Pada November 2025, CV Perangin-Angin Group (PAG) secara resmi memperoleh sertifikasi sebagai kelompok pekebun swadaya bersertifikat RSPO.
Pencapaian ini merupakan hasil kerjasama IDH, Mondelēz International, dan Sinar Mas melalui program Sustainable Palm Oil Landscape Initiative di Aceh dan Sumatera Utara, program empat tahun yang didukung oleh pemerintah Belanda dan Inggris melalui National Initiatives for Sustainable Climate Smart Oil Palm Smallholders atau NISCOPS.

Bagi Risniati, keberlanjutan bukan hanya tentang tanggung jawab terhadap lingkungan, tetapi juga tentang masa depan industri kelapa sawit. Ia percaya bahwa praktik pertanian yang lebih baik dapat membantu petani meningkatkan kualitas hasil panen sekaligus menciptakan rantai pasok yang lebih stabil dan dapat diandalkan.
Melalui pelatihan tersebut, ia melihat bagaimana para petani mulai menerapkan praktik budidaya yang lebih baik, mulai dari pemupukan yang tepat dan teknik panen yang benar hingga langkah-langkah sederhana namun penting seperti menggunakan alat pelindung diri (APD) saat bekerja.
Seiring para petani mulai menerapkan praktik-praktik tersebut, Risniati juga merasakan dampaknya secara langsung dalam perannya sebagai pedagang. Kualitas buah meningkat, panen menjadi lebih konsisten, dan minyak sawit yang diproduksi menjadi lebih mudah dipasarkan. Baginya, keberlanjutan bukan sekadar konsep, melainkan sebuah pendekatan praktis yang membantu petani meningkatkan kualitas panen sekaligus memastikan produk yang mereka hasilkan dapat lebih diterima di pasar.
Keberanian yang Menggerakan Perubahan
Sebagai seorang perempuan, perjalanan ini tidak selalu terasa nyaman. Dalam banyak pertemuan dan diskusi, Risniati sering kali menjadi satu-satunya perempuan yang hadir. Rasa canggung, keraguan, bahkan ketidakpercayaan diri kadang muncul. Namun ia memilih untuk terus melangkah. Baginya, belajar adalah hak semua orang, termasuk Perempuan.

“Saya bangga,” ujarnya. “Saya percaya bahwa perempuan dapat setara, berpendidikan, dan berhasil di sektor ini.”
Bagi Risniati, sertifikasi ini menjadi bukti bahwa kerja keras, kemauan untuk belajar, dan keberanian untuk berubah dapat menghasilkan sesuatu yang bermakna. Kini ia memandang pencapaian tersebut bukan sekadar angka atau selembar sertifikat, melainkan sebuah pintu bagi perempuan lain untuk ikut melangkah maju.
“Saya mengajak perempuan lain untuk terus belajar dan berkembang bersama, saling mendukung satu sama lain. Saya berharap ke depannya semakin banyak perempuan yang berani melangkah untuk meningkatkan produktivitas lahan mereka,” ujarnya.
Risniati percaya bahwa di balik setiap perkebunan yang dikelola dengan baik selalu ada kisah tentang keberanian dan pertumbuhan. Di Desa Gunung Bakti, perjalanannya menunjukkan bagaimana ketekunan dan dedikasi dapat mengubah pekerjaan sehari-hari menjadi sesuatu yang lebih besar.
Melalui semangat untuk terus belajar, Risniati terus mendukung para petani sekaligus membuktikan bahwa perempuan dapat memainkan peran penting di seluruh rantai nilai industri kelapa sawit.(*/Wln)

